De Pearl Of Heaven

 



    Surga selalu menceritakan keindahan raganya dengan balutan akhlaq dan iman dari para muslimahnya. Namun surga juga tak pernah mengesampingkan satu masa pun untuk terus mengatakan “Ibu”, wanita mulia yang tak bermahkota namun bertelapak surga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mengulang tiga kali pengucapan kata ‘Ibu’, disaat seseorang bertanya kepada-Nya, “Wahai Rasulullah, siapa yang harus aku hormati pertama kali?”. Rasul pun menjawab, “Ibumu.” Ia pun bertanya lagi, “Siapa lagi setelah itu yang harus aku hormati pertama kali wahai Rasul?”. Rasulullah pun menjawab, “Ibumu.” Kemudian penanya tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi setelah itu?”. Rasul pun menjawab, “Ibumu.”. Dia pun melanjutkan pertanyaannya lagi, “Siapa lagi wahai, Rasul?”. Rasul pun menjawab, “Ayahmu.” Masyaa Allah TabarakaAllah .. Ibu, memanglah sosok insan yang sangat penting, berharga, dan berpotensi baik untuk diri kita, untuk seluruh keluarga, juga untuk umat seluruh dunia. Karena tanpa wanita bernama ‘Ibu’, kita semua tidak akan ada di dunia. Tanpa wanita bernama ‘Ibu’, kita tidak akan mengerti apa itu dunia dan isinya? Tidak akan mengerti dan memahami untuk membaca dan menulis selama ini, tidak akan menjadi siapa-siapa di dunia ini. Karena restu dan ridha terbesar Allah dan Rasulullah ada pada wanita bernama ‘Ibu’. 

    Seratus Tiga Tahun engkau lahir, tumbuh dan menggema sebagai dedikasi hari peringatan yang dicanangkan nasional terhadap para Ibu pertiwi bahkan untuk Ibu-ibu diseluruh dunia. Dua Puluh Dua Desember Seribu Sembilan Ratus Dua Puluh Delapan adalah tanggal, bulan, dan tahun persaksian bahwa Ibu, seorang wanita yang di anggap lemah, tidak berhak mendapatkan Pendidikan, dipaksa menerima kesanggupan kawin paksa dan di akhiri dengan penutupan perceraian, namun semua itu tidak layak disematkan kepada insan hawa bernama perempuan dengan sebutan mulia seorang ‘Ibu’. Wanita yang mendedikasikan rahimnya untuk naungan tempat terhangat dan perlindungan untuk kita semua, wanita yang rela menukar nyawa dan seluruh napasnya dengan rasa sakit yang teramat yang tak mampu terbayang oleh mata dan otak, yang tak mampu dirasa oleh hati manusia lainnya hanya demi untuk bisa mengeluarkan manusia mungil dari rahimnya, wanita yang menyajikan seluruh waktunya untuk menemani, merawat, membesarkan, dan memantau tumbuh kembang kita, juga memberikan perlindungan extra melebihi aparat keamanan negeri ini dalam menjaga bumi pertiwi. Dari wanita jugalah kita bisa berbicara dan menulis hingga sepandai saat ini, hingga selincah lisan dan jari kita saat ini untuk berargumen dan beropini kepada semuanya. Dari wanita lah kita juga belajar arti kekuatan dan semangat untuk bertahan untuk mereka yang kita cintai dan pencapaian masa depan yang gemilang. Wanita BUKAN KAUM yang LEMAH!! Wanita BUKAN TANAH yang bisa DI INJAK-INJAK dengan dalih semua kinerja ada pada pria, semua kendali kontrol ada pada tangannya. Namun wanita yang bermahkotakan tahta dengan gelar mulia seorang Ibu adalah ia yang merupakan  Mutiara berharga yang selalu dirindukan surga, yang selalu surga nanti-nanti kehadirannya untuk memasukinya. 

    Di dalam sosok wanita, ber-raga hawa, berkiprah tentara, berjiwa wibawa seorang tonggak peradaban tertinggi di dunia (karena wanita adalah sebaik-baik madrasah dan sekolah untuk anak-anak; yang tidak akan mampu dilakukan oleh lelaki meski mereka beribu jumlahnya, namun bisa dilakukan oleh hanya satu wanita untuk bisa menciptakan dunia), bernurani selembut sutera dan sehalus kapas, setegar batu karang dan serentan kaca yang mudah retak dan patah. Itulah wanita. Kiprahnya sebagai sosok Ibu, sahabat, teman, partner (pasangan), putri, takkan mampu dibayar meski dengan Mutiara sebanyak samudera dan emas setinggi puncak gunung Everest pun. Wanita, engkau berharga, mulia melebihi bidadari surga. 

    Selamat hari Ibu kuucapkan untuk wanita hebat diseluruh dunia yang bergelar dan menyandang sematan panggilan Ibu (baca: Tidak hanya kepada mereka yang mampu melahirkan manusia ke dunia, namun juga untuk mereka yang ikhlas dengan penuh kasih sayang merawat seorang manusia meski bukan dari darah dagingnya). Kasih sayangmu, tulus abdimu, air susumu, tak mampu aku balas meski dengan sebumi harta yang ada di dunia. Terima kasih do’a tulus dan perjuanganmu untuk seonggok jiwa kecil ini, yang sampai sekarang aku tak tahu harus membalasmu dengan apa. Terima kasih untuk wanita hebat yang ku punya, wanita hebat yang tak kuasa kugambarkan dengan kata-kata. Aku menyayangimu, Ibu.. Karena bagiku hari Ibu bukanlah hari yang harus diperingati setahun sekali, melainkan setiap hari dengan wujud pengabdian sebagai putri untukmu pintu surgaku yang masih tersisa kini. Be loved you more forever, Mother.. 

                                                                                        Author: Indah Puji Lestari (FKMB’19)

Posting Komentar

0 Komentar