Arsitektur Rekam Jejak Islam di Bojonegoro


Bojonegoro| Selaras dengan Indonesia, Bojonegoro turut menjadi Kabupaten dengan mayoritas penduduk muslim. Mengutip dari damarinfo.com per 2022 lalu, 99,45 persen penduduk Bojonegoro menganut agama islam. Dibaliknya ternyata memiliki cerita unik mengenai venue untuk kegiatan beribadah yaitu masjid. Sejarah berbicara melalui hujjah yang ada sebagai bentuk justifikasi serta validitas yang sangat logis. Pun masjid dalam islam sebagai hujjah amat dijunjung tinggi sebagai eksistensi peradaban realnya.

Masjid Jami’ Nurul Huda yang berlokasi di kecamatan Kanor tepatnya di Desa Cangaan dikenal sebagai masjid tertua di wilayah Bojonegoro. Istilah setiap masa ada orangnya cukup kental dengan sejarah dan berkaitan dengan masjid ini yang mulanya merupakan hasil pendirian seorang tokoh pada masanya silam. Ki Ageng Wiroyudo disebut sebagai pendiri masjid Jami’ Nurul Huda. Bukan masyarakat lokal alih-alih sebagai pendatang dari kota Solo tepatnya dari Kerajaan Mataram Islam. Kronologis singkat kedatangannya ke Bojonegoro disebabkan aksi pengejaran yang dilakukan oleh Belanda kepada Ki Ageng Wiroyudo sebagai prajurit Kerajaan. Sehingga beliau memutuskan untuk menghanyutkan diri di Sungai Bengawan Solo dan bersinggang ke desa Cangaan.

Pada mulanya bangunan Masjid Jami’ Nurul Huda berupa Surau kecil dengan atap daun ilalang yang digunakan sebagai tempat singgahnya. Mengutip dari laman Inews Jatim bahwa Setelah 5 kali proses renovasi, saat ini bangunan Masjid Jami’ Nurul Huda termasuk modern. Hal ini menengok dari kondisi masjid dengan ukuran 15 x 15 meter ini yang berdinding putih dengan lapisan keramik diatasnya. Diungkapkan oleh Abdul Hamid sebagai takmir masjid dalam wawancaranya bersama SaktiTv bahwasanya walaupun masjid mengalami proses pemugaran, namun ciri khas dari peninggalan masih tetap dipertahankan.

Secara gamblang diungkapkan lebih lanjut bahwa yang dipertahankan yaitu kusen serta pintu yang terbuat dari kayu jati lawas yang memiliki ukiran. Dikutip dari suarabanyuurip.com, pada bagian kanan kusen terdapat tulisan arab gundul “Laa Ilaha Illallah”. Sedangkan disisi kiri terdapat tulisan "Muhammad Rasulullah".

Kemudian 4 pilar utama masjid yang juga terbuat dari kayu jati yang tidak usang termakan zaman. Terdapat juga peninggalan dari Ki Ageng Wiroyudo berupa bedug yang masih digunakan hingga sekarang, peti kayu dengan umur ratusan tahun maupun Bencer yang merupakan alat tradisional pengukur waktu sholat.

Diperkirakan Masjid tertua ini dibangun pada tahun 1262 hijrah atau 1846 Masehi. Hal ini ditinjau dari tulisan yang tercantum di daun atau kusen pintu masjid serta menjadi icon tersendiri. Sehingga usia masjid diperkirakan telah mencapai 3 Abad.

Dalam tahap renovasinya, Masjid Jami' Nurul Huda telah mencetak cerita seperti kedatangan pendiri dan ulama Nahdlatul Ulama yaitu KH. Hasyim Asy'ari serta KH. Wahab Chasbullah.

Hingga kini, Masjid Jami' Nurul Huda masih aktif digunakan oleh masyarakat dalam menjalankan ibadah serta dapat menampung 700 orang.

Sumber: 

SaktiTv

Damarinfo.com

Suarabanyuurip.com

Jatimnews.id

Author: Setia Rini Arista

Posting Komentar

0 Komentar